Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Hijabers » Nasihat » Cara Islam Mengangkat Derajat Kaum Hawa ( bag 2)
Cara Islam Mengangkat Derajat Kaum Hawa ( bag 2)
Ketika kaum jahiliah merasa malu apabila memiliki anak perempuan sehingga mereka tega menguburnya hidup-hidup, Al-Quran setelah sebelumnya memberi penjelasan yang jelas tentang kedudukan kaum wanita yang sesungguhnya di masy
Minggu, 03/02/2013 08:02 WIB
Cara Islam Mengangkat Derajat Kaum Hawa ( bag 2)

Ketika kaum jahiliah merasa malu apabila memiliki anak perempuan sehingga mereka tega menguburnya hidup-hidup, Al-Quran setelah sebelumnya memberi penjelasan yang jelas tentang kedudukan kaum wanita yang sesungguhnya di masyarakat, beserta hak-hak dan kewajiban yang dimilikinya langsung mempertanyakan alasan kaum jahiliah membunuh anak-anak perempuan mereka yang tidak punya salah apa-apa. "Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya karena dosa apa dia dibunuh?" (QS at-Takwir [81]: 8-9)

Ketika orang-orang jahiliah berargumen bahwa mereka membunuh bayi-bayi perempuannya karena takut miskin, Al-Quran pun membantahnya dengan tegas disertai dengan logikayangsangattepat. "Katakanlah (Muhammad), "Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu, langan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, berbuat baik kepada ibu bapak, janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat ataupun yang tersembunyi, janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti." (QS al-Anam [6]: 151)

Ketika kaum wanita tidak mendapatkan warisan apa- apa dan harus menebus dirinya ketika suaminya meninggal, atau bahkan ia diwariskan kepada sanak keluarga suaminya,

Islam pun datang dengan membawa pembelaan yang sangat melegakan, "Wahai orang-orang beriman! Tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. lika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya." (QS an-Nisa [4]: 19)

Ketika kaum jahiliah merendahkan kaum wanita karena asai kejadiannya sebagai "alat iblis" untuk menjerumuskan manusia, khususnya kaum laki-laki, Al-Quran pun memberi sanggahan yang sangat indah bahwa kehormatan seorang manusia tidak dilihat dari "asai kejadiannya" atau kekayaannya, tetapi dari keimanan dan amal saleh yang dimilikinya, siapa pun orangnya, laki-laki atau perempuan. "Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang hesar." (QS al-Ahzab [33]: 35)

Ketika kaum jahiliah memperlakukan wanita seenaknya layaknya benda mati yang bebas diperjualbelikan dan memandang kaum lelaki lebih superior dan terhormat, Islam datang membawa konsep hubungan yang egalitarian, yaitu laki-laki adalah pelindung wanita dan wanita adalah partner yang layak dihormati. Keduanya adalah saudara yang harus saling membantu, bahkan keduanya bagaikan pakaian antara satu dan lainnya. "Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul- Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS at-Taubah [9]:71)

Pada ayat lain disebutkan, "Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu..." (QS al-Baqarah [2]: 187)







comments powered by Disqus
Teh Ninih
connect with abatasa