Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Hijabers » Nasihat » Menjadi Wanita Sholehah
Menjadi Wanita Sholehah
Dalam bahasa Al Quran wanita disebut imroatun yang mempunyai akar kata yang sama dengan kata miratun. Miratun berarti cermin. Cermin dapat berfungsi baik apabila cermin tersebut bersih, tidak rusak/pecah dan kualitasnya
Senin, 04/03/2013 08:36 WIB
Menjadi Wanita Sholehah

Dalam bahasa Al Quran wanita disebut imroatun yang mempunyai akar kata yang sama dengan kata miratun. Miratun berarti cermin. Cermin dapat berfungsi baik apabila cermin tersebut bersih, tidak rusak/pecah dan kualitasnya baik, sehingga mampu menghasilkan pantulan sinar /cahaya yang sempurna atau tidak cacat. Demikian pula seorang wanita menjadi cermin hidup/kehidupan keluarga harus berfungsi sebagaimana mestinya.

Mendidik anak laki-laki berbeda dengan anak wanita. Mendidik anak laki-laki berarti mendidik seorang manusia, akan tetapi mendidik seorang wanita berarti mendidik seluruh keluarga. Mendidik wanita harus dilengkapi dengan ketrampilan kerumah-tanggaan/ berumah tangga seperti memasak, berhias diri, merawat tubuh, mengatur/ menata rumah, bahkan bekal saat memasuki bahtera rumah tangga.

Wanita dalam kehidupannya menjalankan multiperan, diantaranya : peran sebagai istri, Ibu, dan anak sekaligus, bahkan juga sebagai wanita karier. Tentu tugas ini berat, namun ketika dijalani dengan senang hati dan ikhlas, Insya Allah semua itu menjadi ringan.
Sebagai gambaran peran-peran tersebut di atas, sedkit penjelasan dari masing-masing peran/fungsi dan tugas kaum wanita :

1. WANITA SEBAGAI ISTRI
Wanita sebagai pendamping suami, secara umum tugasnya adalah memenuhi kewajibannya terhadap suami, mendukung/mendorong semangat untuk keberhasilan suami dalam berbagai hal dan mendoakan suami.
Sabda Nabi Muhammad saw: Pengabdianmu kepada suamimu adalah Shodaqoh ( HR. Dailami).

Berikut adalah langkah praktis yang dapat dilakukan dalam menjalankan perannya sebagai istri seperti yang tuturkan Ibu Sitaresmi S. Sukanto :

  1. Hendaklah istri senantiasa meminta izin kepada suami, apabila hendak keluar rumah atau melakukan kegiatan yang tidak dapat mengikutsertakan suami dan anak-anak.
  2. Usahakan istri selalu salam mencium tangan suami ketika hendak bepergian
  3. Senantiasa bersyukur dan berdoa atas rizki yang telah diusahakan oleh suami betapapun kecilnya
  4. Memaafkan kekhilafan suami dan bersabar atas kekurangannya
  5. Menyambut kepulangan suami dari bekerja dengan meringankan bebannya dan menyegarkan gairah/semangat dengan berpakaian yang menarik dan berpenampilan sebaik mungkin
  6. Memperbanyak ungkapan rasa "Cinta dan Sayang" kepada suami dimanapun saat ada kesempatan
  7. Menyediakan waktu khusus untuk menjalin romantisme bersama suami, misal di akhir pekan atau pada acara khusus tertentu
  8. Memberikan bingkisan istimewa yang merupakan kegemaran suami
  9. Memelihara keakraban dan menghormati orangtua dan saudara suami
  10. Menyapa atau memanggil suami dengan sapaan/panggilam khusus
  11. Bersedia untuk mendengar keluhan-keluhan suami bahkan sampai dengan hal-hal yang bersifat pribadi sekalipun
  12. Meminta pendapat suami tentang pakaian yang akan dibeli atau Anda pakai, seperti model, warna atau lainnya
  13. Menyediakan waktu untuk mendiskusikan perkembangan karir suami atau masa depan anak-anak
  14. Menjaga harta suami dengan cara cermat dan hemat
  15. Menjaga kehormatan keluarga dan menjaga rahasia rumah tangga serta aib suami.

 

Satu kisah di Majelis Taklim. Salah seorang berkata: " Enak sekali suami harus diperlakukan seperti itu". Tetapi dalam renungannya, lalu hatinya berkata: Kenapa saya rajin ikut pengajian tapi tidak mau berubah?. Tapi bagaimana memulainya, karena selama ini perlakuanku banyak yang berlawanan. Pada suatu hari dengan niat yang kuat akan merubah sikap dan perlakuan kepada suamiku. Satu demi satu dijalankan, suamipun mengamatinya. Oh ada perubahan besar pada istriku, kenapa ?, demikian pertanyaan dalam hatinya. Pada saat yang tepat, suami bertanya: Sayang, akhir-akhir ini kok sikap dan perlakuanmu kepadaku berubah drastis ? Istrinya menjawab: ya, aku ikut pengajian dan selama ini perlakuan saya terhadap Abang salah, saya minta maaf. Mendengar istrinya ikut pengajian, lalu bertanya siapa gurunya? Namun istrinya belum bersedia memberitahukannya. Sang suami senang dengan perubahan sikap istrinya dan selalu mendorong serta mengingatkan hari-waktu pengajian, bahkan mau mengasuh anak-anaknya yang masih kecil agar istrinya bisa ikut pengajian. Penampilan suaminya di kantor pun lebih segar, ceria dan bekerja lebih baik.

Banyak diakui oleh kaum pria bahwa keberhasilan hidupnya karena peran para wanita disekitarnya. Dibalik kaum pria yang HEBAT ada wanita di belakangnya yang HEBAT. Wanita itu adalah ISTRI, IBU dan ANAK WANITANYA.

2. WANITA SEBAGAI IBU
Ibu adalah sebutan wanita yang melahirkan, wanita yang sudah tua usianya atau wanita yang membimbing/mengasuh anak. Keluarga dalam pengertian awam adalah orangtua yang terdiri ayah, ibu atau suami istri dengan/tanpa anak. Peran ibu sangat besar dalam mewujudkan kebahagiaan dan keutuhan keluarga. Dalam kehidupanpun masyarakat banyak menggunakan kata ibu, sebagai sesuatu yang memiliki peran yang besar, seperti kata ibu Pertiwi untuk menggambarkan tanah, air tempat berpijak hidup manusia, Ibu jari untuk bisa memuji seseorang, ibu kota sebagai pusat berbagai kegiatan, dan lain-lain. Pada sisi lain Ibu juga diangkat tinggi oleh Allah swt, misalnya: Ketika sahabat bertanya kepada Nabi mengenai kepada siapa dia harus berbuat baik. Pertanyaan itu dikemukakan 4 kali. Jawabanya 3 kali, berbuat baik kepada ibumu dan yang ke empat kepada ayahmu. Bentuk lain Sorga berada di bawah Telapak kaki Ibu, mengandung makna bahwa kalau mau sukses dunia maka tunduklah kepada Ibumu dan apabila mau sukses di akhirat tunduklah nasehat ibumu yang sholehah. Keridhoan seorang ibu menentukan kehidupan anak-anaknya. Banyak pengalaman rekan-rekan yang meraih sukses dalam kerja, usaha, kehidupan keluarga dan lainnya karena mereka menjaga, berbuat baik dan didoakan oleh ibu-ibu mereka. Satu hal lagi, Allah memberikan porsi warisan. laki-laki dan wanita 2 berbanding 1. Wanita konon pada dasarnya matrealistis :), namun hanya mereka yang mampu mengelola diri sajalah yang mampu menurunkan kadar matrealistisnya sampai titik terendahnya. Walaupun diakui ada wanita-wanita yang memiliki tingkat matrealistisnya terendah, misal mereka siap nikah walaupun calon suaminya belum memiliki apapun termasuk pekerjaan, namun ia tahu calon suaminya bukan tipe pemalas atau menunggu pemberian orang lain. Dia serahkan rizkinya kepada Allah nanti setelah nikah dengan kerja keras bersama. Walaupun perannya besar, secara materi 1 bagian, namun balasannya akan Allah sempurnakan nanti di akhirat sebagaimana janji-Nya.

Tugas ibu sebagai orangtua sangat berat dan Allah melatihnya sejak ia mengadung seperti sakit, lemah, mual-mual, pusing atau berbagai keinginan aneh. Kemudian harus membawa janinnya kemana saja ia pergi. Latihan yang terberat adalah saat melahirkan, ia mempertaruhkan antara hidup dan mati. Mati syahid ketika sang ibu melahirkan harus berakhir dengan kematian. Ketika latihan berat ini bisa dilalui dengan baik, maka tugas berikutnya juga berat karena bersifat fisik dan psikologis.

Tugas yang melibatkan fisik dan psikologis ini tidak lain adalah tugas mendidiknya. Meskipun pada saat masih dalam kandungan juga sudah berkewajiban mendidiknya, namun tidak seberat setelah lahir. Mendidik anaknya setelah lahir membutuhkan waktu panjang, tenaga dan financial. Tugas ini dapat dilalui dengan baik, apabila tugas dan peran yang pertama ( sebagai istri) telah dilaksanakn dengan baik.

Tugas mendidik memang bukanlah tugas individu seorang ibu, namun perlu disadari bahwa ibu memiliki peran yang sangat besar. Ibu adalah guru pertama dan utama di rumah. Peran suami bersifat mengokohkan apa yang telah dibentuk ibu. Peran Ibu lebih efektif karena ada ikatan anak dan ibu yang kuat saat dikandungan. Untuk bekal atau pegangan orangtua dalam mendidik anak-anaknya, berikut peringatan Dorothy Law Nolte dalam " Children learn what they live" atau anak-anak Belajar dari Kehidupannya:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelai
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang,dan persahabat, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya.

Tergambar dengan jelas bahwa perlakuan orangtua, khususnya ibu menentukan protret karakter anak-anaknya. Oleh karena itu harus dihindari adanya sikap yang berlawanan antara Ibu dan Ayah, karena kemungkinan hasilnya lebih buruk lagi.
Disamping mendidik karakter, juga bekali anak-anak kita dengan mempertahankan dan mengembangkan kualitas iman; bekerja dengan baik ( disiplin/meghargai waktu); berjuang bekerjasama menegakkan kebenaran dan bekerjasama menyebarkan kesabaran ( QS. Al Asr: 1-4)

Berikut 10 WASIAT Seorang IBU kepada putrinya untuk dijadikan sebagai pegangan dalam menjalan peran baru sebagai istri:

  1. Bertemanlah dengan sikap Qonaah ( menerima apa adanya)
  2. Dengarkan dan taati apa-apa yang baik, saran-saran dan keluhannya
  3. Perhatikan apa-apa yang disenangi dan apa-apa yang tidak disenanginya.
  4. Jangan sampai memandang sesuatu yang buruk darimu dan mencium kecuali bau yang harum
  5. Perhatikan waktu makannya, kebutuhannya, ibadahnya dan jaganlah ketenangan tidurnya
  6. Perhatikan dan jagalah rumah dan harta
  7. Peliharalah dirinya, kehormatannya, anak-anaknya dan silaturahim dengan keluarganya
  8. Janganlah engkau menyebarkan rahasia dan mendurhakai perintah baiknya.
  9. Janganlah engkau gembira bila ia sedang sedih dan janganlah bersedih bila ia sedang gembira
  10. Tunjukkan penghormatan/penghargaanmu dan ketaatan yang sebesar-besarnya.

 

3. WANITA SEBAGAI ANAK
Ketika belum menikah peran ini sudah sangat jelas, karena semua bentuk ketaatan kepada Ibunya tidak ada masalah. Pada saat menikah banyak yang belum muncul kesadaran bahwa sekarang ia telah menjadi anak dari 2 ibu dan 2 ayah, yakni Orangtua atau ibu dan ayah mertua atau ayah dan ibu dari suami. Terbukti perlakuan yang terbaik belum terlihat pada ayah dan ibu mertua. Ketika ayah dan ibu mertua berkunjung ke rumahnya diperlakukan lebih rendah dibanding ayah/ibunya sendiri. Terlebih ketika kondisi ayah/ibu mertua lebih rendah baik kedudukan /jabatan, kekayaan atau lainnya. Demikian juga ketika berkunjung ke orangtua, kunjungan ke orangtua sendiri lebih lama dan oleh-oleh yang banyak dibandingkan mertua. Padahal orangtua suami (mertua) lebih membutuhkannya, Sikap dan perlakuan yang seperti ini bukanlah cerminan dari wanita sholehah. Sikap dan perlakuan di atas dapat menyebabkan kerenggangan hubungan silaturahim keluarga suami. Kalau suami tidak mampu memperbaiki keadaan ini, memungkinlah terjadinya kerenggangan hubungan silaturahmi antar kedua keluarga. Perlakukan orantua suami sama dengan seperti orangtua sendiri, apapun keadaannya. Berilah bantuan atau pemberian lain sesuai dengan kebutuhan orangtua. Demikian juga dengan saudara-saudara suami.

4. WANITA SEBAGAI PEKERJA, PROFESIONAL ATAU PENGUSAHA
Sejalan perkambangan zaman, peran wanita semakin dibutuhkan tidak saja di lingkungan rumah tangga, tetapi di masyarakat. Banyak kaum wanita bekerja sebagai wanita karier atau Pengusaha. Mereka bekerja sebelum menikah dan dilanjutkan setelah nikah. Ada yang bekerja setelah menikah. Berbagai alasan kaum ibu bekerja di lembaga/kantor. Sebagian dalam rangka menunjang kehidupan keluarga, sebagian lagi karena tidak sanggup bekerja hanya seputar pekerjaan rumah tangga, keahliannya dibutuhkan masyarakat atau kemauan untuk berbisnis. Terlepas apapun alasannya, namun peran, fungsi dan tugas di atas (1) dan (2), tidak boleh diabaikan. Apabila suami-istri bekerja di luar rumah, ada 2 hal yang tidak boleh digantikan oleh siapapun, yatu melayani suami dan mendidik anak-anaknya di rumah:) Pekerjaan mencuci, menyetrika, merawat kebersihan/taman, (sebagian) memasak dan lainnya mungkin bisa dilimpahkan kepada pembantu atau jasa lain.

Jabatan yang lebih tinggi, gaji/penghasilan yang lebih besar, keluarga/ saudara-saudara lebih kaya atau lainnya tidak boleh mengurangi peran, fungsi/tugas, sikap dan perlakuan kepada suami.
Demikain juga ketika memiliki peran sebagai " Public Figure" dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial/kemasyarakatan, politik atau lainnya. Peran besar di masyarakat dan kedudukan yang tinggi, jangan menjadikan turun sikap, perlakuan dan kewajibannya terhadap suami. Masalah lain yang sering terjadi adalah gaji dari istri hanya untuk keperluan, kesenangan istri sendiri. memang hal ini dibolehkan. Namun lebih baik berapapun hasil kerja istri, gabungkanlah dengan penghasilan suami untuk kebutuhan keluarga. Terlebih lagi bila penghasilan suami belum mencukupi kebutuhan keluarga. Bukankah istri kerja juga atas izin suami. Tanpa izin, tentu saja tidak ada gaji/penghasilan yang diterima. Kegiatan lain yang dilakukan oleh sebagian lainnya, adalah membuka usaha di rumah untuk menyokong kebutuhan hidup keluarganya.







comments powered by Disqus
Teh Ninih
connect with abatasa