Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Hijabers » Nasihat » Ibu Tangguh Menafkahi 5 Anaknya
Ibu Tangguh Menafkahi 5 Anaknya
Kasih sayang ibu tak akan pudar walau didera penderitaan dan kemiskinan, itulah salah satu kata pepatah yang tepat ketika kita membaca kisah nyata dari Padang, tepatnya Kotuloa, Pauh ini.
Kamis, 11/07/2013 06:30 WIB
Ibu Tangguh Menafkahi 5 Anaknya

Kasih sayang ibu tak akan pudar walau didera penderitaan dan kemiskinan, itulah salah satu kata pepatah yang tepat ketika kita membaca kisah nyata dari Padang, tepatnya Kotuloa, Pauh ini.

Syamsiwar, seorang ibu yang berjuang keras untuk dapat menafkahi kelima anaknya ini patut menjadi panutan bagi kita semua, bahwa hidup bukan hanya sampai disini walau seberat apapun masalah yang sedang kita hadapi.

Syamsiwar yang ditinggal wafat suaminya dua tahun lalu, kini terpaksa seorang diri menafkahi lima anaknya. Setiap harinya beliau tapakkan kakinya menuju bukit yang berjarak 9 kilometer dari pondoknya. Dengan ditemani anak laki - lakinya, mereka tak kenal lelah. Mereka harus berjalan menaik-turuni bukit dan 2 kali menyebrangi sungai, hanya untuk mencari nafkah sesuap nasi untuk anak-anaknya dari tanaman Pakis (Paku).

Tanaman ini biasanya banyak tumbuh di perbukitan, apalagi ketika musim penghujan. Namun hasil yang didapat dari tanaman ini tak sebanding dengan lelah yang mereka rasakan. 1 ikat pakis hanya dijual dengan harga Rp 1.000,- bahkan kadang - kadang Rp 500,-.

"Kadang - kadang satu hari hanya dapat 10 ribu, paling banyak 30 ribu. Itupun kalau lagi musim penghujan." Ujar bu Syamsiwar.

Ari, anak paling bungsu ini turut menemani sang ibu. Walau usianya baru menginjak 7 tahun, tapi ia tak tega membiarkan ibunya pergi ke hutan sendirian.
"Ari takut ibu kenapa - kenapa, jadi Ari dan kak Idet ikut menemani ibu." Sambil mengusap matanya, Ari berkata pelan.

Pergi pagi, pulang sore atau malam baru mereka sampai di pondok yang hanya berukuran 4 x 4 meter itu. Tak ada ruang tamu, dapur dan WC. Mereka tidur berenam di pondok tersebut. Listrik tak ada. TV juga tak ada. Dinginnya angin malam, menusuk tulang.

"Saya Cuma kasian sama anak saya, anaknya tidak mau tinggal di rumah. Maunya ikut saya mencari pakis ke hutan."
Dalam perjalanan, terbersit kadang - kadang di pikiran kedua anaknya ketika melihat anak - anak seusia mereka asyik bermain di sungai ataupun dijalan yang mereka lalui.

"Ari ingin bermain seperti mereka, tapi ga bisa. Ari ingin membantu ibu." Sembari manunjuk ke arah anak - anak yang sedang bermain di sungai.
Sungguh miris rasanya ketika kita menjumpai potret kehidupan yang seperti ini. Untuk sesuap nasi saja, mereka harus ke hutan seharian.

"Kadang - kadang kalau ada nasi, kami bawa nasi seadanya buat bekal di hutan. Tapi kalau lagi tidak ada, kami hanya minum air sungai sebagai penghilang haus."
Untunglah hari ini masih ada sisa rejeki kemarin, serantang kecil nasi yang dibungkus plastik hitam dibawa Ari ke hutan. Itupun untuk makan mereka bersama kakak dan ibunya.

Matahari sudah tepat di atas kepala mereka, saatnya beristirahat. Bu Syamsiwar mencarikan daun yang bisa digunakan untuk alas nasi yang mereka bawa. Nasi yang ada, mereka makan bersama. Kadang - kadang bu Syamsiwar harus mengalah tidak makan. Ia lebih memilih nasi itu untuk kedua anaknya. Berjalan beliau menuju sungai untuk mengambilkan air minum bekal di perjalanan pulang nanti.

"Kalau kemalaman, kami biasanya numpang tidur di pondok orang yang kita lewati. Kebanyakan mereka yang menawarkan untuk bermalam disana. Kasian juga anak anak."

Rata-rata Syamsiwar mendapat 25 ikat sehari. Pakis itu dijualnya ke Pasar Bandarbuat. Karena keterbatasan sumber daya manusia (tak bersekolah), Syamsiwar tak mematok harga pakis tersebut. Kadang, 25 ikat pakis dijual Rp 10 ribu, Rp 20 ribu, dan Rp 30 ribu. "Berapa pun dibeli orang, saya terima," ujarnya polos.

Dengan penghasilan Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu sehari, berat bagi Syamsiwar mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari. Uang tersebut lebih diprioritaskan untuk belanja sekolah tiga anaknya yang kini bersekolah di MIN Kotolua. "Kadang, kami tak makan. Cukup minum air putih dan makan gulai paku," kata bu Syamsiwar.

Anaknya yang sulung, Desi, 25, belum bekerja. Ari, anak keempat, putus sekolah karena ketiadaan biaya. Tinggal Ita, Ipil dan Idet yang bersekolah. Ita, anak ketiga sering tinggal kelas. Makanya, kini ia sekelas dengan adiknya, Ipil, duduk di kelas III. Adiknya yang bungsu, Idet duduk di kelas I.

"Idet kalau di kelas, anaknya rajin dan semua pelajaran masuk ke dia. Saya prihatin ketika jam istirahat dia sendirian di kelas. Biasanya saya tanya kenapa dia tidak ikut bermain dengan murid - murid yang lain. "saya lapar, tadi pagi pas di rumah belum makan" lantas saya kasih jajan jika saya lagi membawa uang." ulang Guru kelas I MIN Kotolua.

Sama seperti kakak - kakak yang lain, seusai sekolah mereka langsung pulang. Sesampai di rumah, Idet langsung bertanya sama adiknya yang paling bungsu.

"Ada nasi dek?" Ari keluar hanya membawa sepiring kecil gulai pakis. "Adanya hanya ini kak."
Kadang, ada tetangga yang merasa iba kepada mereka. Seperti siang itu, tetangga dekat pondok Bu Iwar memberikan sepiring penuh nasi putih tanpa lauk. Sambil menyapa Idet.

"Lagi makan apa Det? Ini, ibu ada nasi putih. Tapi maaf ya, lauknya tidak ada." Sembari menyodorkan piring tersebut, Idet langsung menyambutnya gembira.

Nasi sepiring itupun dia makan dengan lahap, ditemani 2 kakak dan 1 adiknya. Hanya berlauk-kan gulai pakis. Itu saja sudah makanan yang sangat mewah bagi mereka.

Dulu semasa suaminya masih hidup, Syamsiwar tinggal di Lambuangbukik. Di sana, ia juga tinggal di sebuah pondok. Karena suaminya meninggal, ia pun pindah ke Kotolua. Di tempat tinggal sekarang ini, Syamsiwar hanya menumpang. Suatu waktu, pondok tersebut juga akan dibongkar, karena jalan yang melewati pondok tersebut, termasuk planning jalan tata kota.

"Banyak tetangga yang menyarankan agar anak anak saya dititip di Panti asuhan, tapi mereka tidak mau. Mereka lebih memilih untuk tetap tinggal dengan saya. Dan saya juga jujur tidak akan sanggup berpisah dengan mereka." Airmata bu Iwar langsung jatuh bercucuran sembari menceritakan kisah hidupnya yang penuh dengan kesusahan.

Ya Allah, bukalah pintu rejeki-Mu......

19 Januari 2012
Awalnya, Syamsiwar sempat kikuk saat didatangi rombongan Bazda bersama Bagian Kesra Setko Padang. Raut wajahnya tegang melihat rombongan orang berpakaian PNS itu. Namun setelah dijelaskan pihak kecamatan dan kelurahan, barulah Syamsiwar mengerti. Tak lama kemudian, dua petugas Bazda datang membawa dua karung beras.

Ketua Harian Bazda Padang, Maigus Nasir didampingi Kabag Kesra Setko Padang, Al Amin segera menghampiri Syamsiwar. "Ini bantuan dua karung beras dan uang Rp 1 juta untuk ibuk dan anak-anak. Semoga bermanfaat ya buk," kata Maigus.

Air mata Syamsiwar langsung pecah dan segera memeluk Maigus. "Tarimo kasih, Pak," tutur Syamsiwar
"Ibuk lai sumbayang," tanya Maigus. "Ndak, Pak," jawab Syamsiwar malu-malu. "Ambo sanang, ibuk jujur. Dari iko ka ateh, ibuk harus sumbayang. Jaan karano miskin, awak ndak sumbayang, Buk. Badoa ka Tuhan, mohon dibukakan jalan dan pintu rezeki," tambah Maigus. Sekali lagi, Syamsiwar memeluk Maigus erat-erat. "Iyo, Pak. Ambo janji," tukas Syamsiwar.

Kepada Padang Ekspres, Maigus mengatakan bantuan ini bantuan spontan. "Kami merasa malu, potret kemiskinan Padang terekspos di TV nasional. Seakan pemda bersama Bazda tak bisa berbuat untuk masyarakatnya yang miskin. Tahun ini, kami akan membentuk tim khusus untuk mendata warga miskin di Padang. Jujur, kami menilai data gakin versi Pemko dan BPS, masih belum valid," ulas mantan Ketua DPRD Padang itu.

Di hadapan Syamsiwar, Maigus juga berjanji membuatkan rumah untuknya. "Kami akan berkoordinasi dulu dengan RT, LPM dan Lurah, akan mencarikan tanah untuk rumah permanen Syamsiwar," terang Maigus. Bola mata Syamsiwar, berbinar mendengar rencana pembuatan rumah tersebut.

"Selain rumah, apo yang ibuk nio lai," tanya Maigus. Mata Syamsiwar berkaca-kaca. Mulutnya seakan tak sanggup bicara. "Banyak, Pak. Tapi, kalau rumah alah ado, kami nio TV, pak. Alah lamo kami ndak nonton TV. Anak-anak yo taragak bana nonton TV," jawab Syamsiwar dengan logat Minang.

Mendengar itu, Maigus pun terharu. "Iyolah, buk. Awak siap an rumah dulu yo," ulas Maigus.
Kabag Kesra Setko Padang, Al Amin juga tak menampik, masih banyak gakin yang belum terdata. "Selama ini, ada mindset yang buruk. Jika didata, warga langsung berpikir dapat bantuan.

Makanya, masih banyak juga warga yang bangga mengaku miskin. Begitu pula dengan petugas yang mendata, berlaku KKN terhadap keluarganya. Sudahlah, biarkan saja yang telah berlalu. Mulai hari ini dan ke depan, mari kita saling peduli dengan lingkungan sekitar," ujar Al Amin.

Al Amin juga mengajak warga Kotolua menyukseskan program terbaru Pemko, beras genggam. "Masih ada sepertiga warga kita yang miskin. Masa kita yang dua pertiga berada ini tak bisa mengeroyok rame-rame untuk membantu gakin yang sepertiga itu," pungkasnya.







comments powered by Disqus
Teh Ninih
connect with abatasa