Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Hijabers » Nasihat » Berpenampilan Seperti Laki-laki
Berpenampilan Seperti Laki-laki
Dari Ibnu Abbas Ra., ia berkata, “Rasulullah Saw. mengutuk orang laki-laki yang berpakaian menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. ” Penyerupaan ini bisa dalam tingkat yang ringan maupun sampai yang berat.
Kamis, 24/07/2014 08:32 WIB
Berpenampilan Seperti Laki-laki

zaman sekarang ini, banyak sekali laki-iaki yang menyerupai wanita dan juga wanita yang menyerupai laki-laki. Penyerupaan ini bisa meliputi: gaya rambut, cara berpakaian, dan perilaku.

Rasulullah sangat membenci hal ini, sebagaimana tercantum dalam sebuah hadits:

Dari Ibnu Abbas Ra., ia berkata, “Rasulullah Saw. mengutuk orang laki-laki yang berpakaian menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. ”

Penyerupaan ini bisa dalam tingkat yang ringan maupun sampai yang berat. Penyerupaan yang dalam tingkatan ringan, bisa kita temukan pada mereka yang tampil tidak sebagaimana mestinya, misalnya wanita yang tampil menyerupai laki-laki, terutama dalam hal berpakaian (penampilan fisik).

Banyak perempuan berpenampilan seperti laki-laki dengan tujuan agar mereka bisa bebas seperti laki-laki. Misalnya potongan rambutnya. Banyak para wanita, terutama mereka yang masih terbilang muda, memotong pendek rambutnya menyerupai laki-laki.

Dari segi cara berpakaian, model baju yang dikenakan oleh laki-laki telah banyak yang ditiru oleh para wanita, dikarenakan alasan: simpel, lebih praktis, menarik, atau alasan lainnya. Model celana yang membelah bentuk kaki wanita sudah menjadi pandangan yang biasa sekarang ini, karena model celana seperti itu dirasa lebih praktis dan simpel.

Begitu juga dalam hal perilakunya. Banyak para wanita yang berperilaku seperti laki-laki, sehingga jadilah dia wanita yang tomboy.

Dalam hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Ada empat kelompok orang yang pada pagi dan petang hari dimurkai Allah.” Para sahabat lalu bertanya, “Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?” Beliau lalu menjawab, “Laki-laki yang menyerupai perempuan, perempuan yang menyerupai laki-laki, orang yang menyetubuhi hewan, dan orang-orang homo seksual.” (HR. Ahmad dan Thabrani).

Ibnu Abbas Ra. berkata, “Rasulullah Saw. melaknat laki-laki yang bertingkah laku seperti wanita dan wanita yang bertingkah laku seperti laki-laki. Beliau bersabda, “Usirlah mereka dari rumahmu.” (HR. Bukhari).

Lagi-lagi Allah menghendaki keaslian, bahwa takdir wanita diciptakan sebagai wanita dan takdir laki-laki adalah laki-laki, dan masing-masing tidak boleh iri terhadap yang lain sehingga mengubah dirinya atau berperilaku sebagaimana sosok yang ia irikan. Bahwa Allah telah menciptakan manusia dalam keadaan berpasang-pasangan, dan siapa saja yang berpaling dan melakukan hal yang sebaliknya berarti sudah keluar dari sunnatullah, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh umat Nabi Luth. Apa yang telah dilakukan oleh umat Nabi Luth, yaitu berhubungan sesama jenis, membuat Allah murka dan langsung menurunkan hukumannya supaya menjadi pelajaran bagi kaum-kaum kemudian. Namun, ini semua seolah diabaikan dan manusia sudah bertindak di luar batas dan semaunya.

Dewasa ini, yang kita lihat adalah banyaknya laki-laki yang bertingkah laku seperti wanita daripada wanita yang bertingkah laku seperti laki-laki. Banci-banci yang pada dasarnya adalah kaum laki-laki ini merasa cocok dengan pakaian-pakaian wanita, dan juga ber-make up sebagaimana wanita.

Dan jika dalam keseharian mereka sudah tampak seperti itu, pastilah itu akan berpengaruh terhadap pola

dan perilaku secara keseluruhan. Sedangkan pada wanita lebih ditekankan (dianjurkan) untuk tidak menyerupai laki-laki (terutama dalam hal berpakaian dan berperilaku).

Mengenai hal ini, Rasulullah sangat tegas dalam bersikap, sebagaimana tercantum dalam hadits di atas, bahwa kita diperintahkan untuk mengusir mereka yang berperilaku seperti laki-laki, atau sebaliknya. Dan Allah pun sangat murka terhadap perbuatan ini.

Hukum agama yang berjalan sekarang ini seolah telah mati dan dianggap tidak ada. Semua bergerak menuju kepentingannya masing-masing. Dakwah yang diserukan tidak lagi digubris, dan tidak ada lagi ketakutan akan datangnya azab sebagaimana Allah telah menurunkan azab kepada umat Luth dan umat terdahulu. Semakin longgarnya seseorang dalam beragama, akhirnya semakin merenggangkan seseorang dari keterikatan kepada Allah (lewat mematuhi hukum-hukum dan syariatnya) dan rasa takut terhadap Hari Pembalasan dan juga pertanggungjawaban yang kelak harus diberikan kepada Allah sudah tidak tampak lagi. Yang ada adalah semakin menjamurnya penging-karan-pengingkaran terhadap sunnah Rasulullah dan Kitabullah.


Sumber: Wanita Wanita yang Sudah Tidak Punya Rasa Malu, Karya: Arini el-Ghaniy







comments powered by Disqus
Teh Ninih
connect with abatasa