Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Hijabers » Nasihat » Kebahagiaan Hakiki dalam Iman
Kebahagiaan Hakiki dalam Iman
Seseorang tidak akan merasakan kebahagiaan ini kecuali orang yang berkobar cintanya kepada Allah dalam hatinya, diri, dan pikirannya. Sesungguhnya pemilik kebahagiaan hakiki adalah Allah Yang Maha Esa. Mintalah kebahagiaan...
Rabu, 27/08/2014 11:32 WIB
Kebahagiaan Hakiki dalam Iman

Duhai wanita yang bersedih!


Kebahagiaan iman merupakan kebahagiaan sebenarnya. Seseorang tidak akan merasakan kebahagiaan ini kecuali orang yang berkobar cintanya kepada Allah dalam hatinya, diri, dan pikirannya. Sesungguhnya pemilik kebahagiaan hakiki adalah Allah Yang Maha Esa. Mintalah kebahagiaan dengan penuh ketaatan kepada-Nya.

Hanya ada satu jalan untuk meraih kebahagiaan yaitu dengan mempelaj ari agama yang benar, yaitu yang diutus dengannya Rasulullah SAW. Barangsiapa yang mengetahui jalan ini, maka tidak seorangpun bisa membuatnya untuk tidur di dalam gubug, di trotoar, makan dari sisa-sisa makanan orang lain, agar ia menjadi manusia paling bahagia di muka bumi ini. Adapun orang yang sesat dari jalan ini, usianya penuh dengan kesedihan, hartanya dihasilkan dengan haram, dilanda kerugian dan berakhir dengan kekecewaan.

Ibnu Jauzi pernah berkata, “Aku pernah terhimpit satu perkara sehingga aku mengalami kesedihan bertubi-tubi. Aku mulai mencoba berpikir untuk mengakhiri kesedihan ini dengan segala cara. Maka aku tidak menemukan jalan untuk mengakhiri kesedihan ini. Lalu aku sampai pada sebuah ayat, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2).

Dari sana aku sadar, bahwa takwa merupakan solusi jalan keluar dari setiap kesedihan. Maka aku tidak berusaha kecuali dengan mewujudkan takwa dengan sebenar-benarnya, kemudian aku menemukan jalan keluarnya...”

Janganlah berusaha untuk mengubah kerugian pada waktu kemarin. Maka ketika usia manusia telah tiba masany, ia tidak akan pernah bisa kembali lagi.

***


Sumber: Buku La Tahzan for Women, Penulis: Nabil bin Muhammad Mahmud







comments powered by Disqus
Teh Ninih
connect with abatasa