Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Hijabers » Parenting » Plus Minus Membina `Rumah Terpisah` (bag. 2)
Plus Minus Membina `Rumah Terpisah` (bag. 2)
Selain waktu, tentu soal perasaan dan kasih sayang. Idealnya seperti pepatah jawa yang mengatakan`witing tresno jalaran soko kulino`, cinta hadir karena kebersamaan. Kasih sayang juga bisa terjaga dan makin kuat karena kebersamaan. Keluarga barakah adalah keluarga yang saling ...
Kamis, 06/09/2007 13:05 WIB
Plus Minus Membina `Rumah Terpisah` (bag. 2)

Sakinah, Mawaddah dan Rahmah

Selain waktu, tentu soal perasaan dan kasih sayang. Idealnya seperti pepatah jawa yang mengatakan'witing tresno jalaran soko kulino', cinta hadir karena kebersamaan. Kasih sayang juga bisa terjaga dan makin kuat karena kebersamaan. Keluarga barakah adalah keluarga yang saling menebarkan cinta. Yang pertama, cinta antara pasangan.

Pendidikan dan pengajaran tidak sempurna bila tidak dibarengi cinta. Kasih sayang bukan hanya soal perasaan dan merasa. Merasa sayang, merasa rindu atau ingin dekat. Bagi anak dalam usia perkembangaan proses pemaknaan cinta melalui cara kongkret adalah mutlak. Ia bisa merasa jika ia mengalami. Jika Anda bisa memastikan kasih sayang yang kongkret, Anda boleh merasa aman menerapkan keluarga 'rumah terpisah'.

Pendidikan Anak, Tugas Kedua Orangtua

Mendidik anak tak bisa di tawar, adalah tugas bersama antara kedua orangtua. Anak adalah amanah Allah untuk ayah dan ibunya. Mereka harus bergandengan tangan dalam suasana ikhlas dan pengertian.

Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, menekankan jangan sampai terbersit bahwa masuknya peran salah satu pihak (ayah, misalnya) ke dalam peran pihak lain (ibu) akan berdampak kepada pihak lain tersebut. Seorang ibu seharusnya tidak memperkenankan sang ayah untuk 'sekedar' membantu dalam mendidik anak. Ibu harus mendorong ayah untuk 'benar-benar' mendidik, mempersiapkan segala sarana, dan memberikan pelajaran yang cukup kepada anak.

Mahmud Mahdi Al-Istanbuli dalam naskaah aslinya bertajuk Kaifa Nurabby Athfaaluna berkata, “Saya sungguh heran terhadap kaaum yang meremehkan basis tradisi mereka seperti orang yang menyerahkan pembuatan golok yang kuat dan tajam kepada pandai besi yang tidak mumpuni”.

Dirinya menyayangkan jika kini banyak orang yang tidak menekan para generasi muda untuk mempelajari perkembangan psikologis anak dan metode-metode pendidikan sebelum menikah dan berkeluarga. Menurut Mahmud, amatlah naif melahirkan keturunaan tanpa mengerti prinsip-prinsip pendidikan dan menerapkannya dalam rumah tangga. (bersambung...)







comments powered by Disqus
Teh Ninih
connect with abatasa