Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Hijabers » Parenting » Ikut Membantu
Ikut Membantu
Saat anak-anak masih kecil, saya akan mengenakan jas hujan, dengan kerah berdiri, meraih notepad, dan berbicara dengan aksen misterius. "Pemeriksa kamar sudah datang," kata saya. "Waktu untuk memeriksa kamar." Gadis-gadis ...
Selasa, 17/01/2012 00:00 WIB
Ikut Membantu

Para ahli mengenai waktu, jawara organisasi, dan para penceramah publik mengajarkan hal yang sama tentang usaha membuat hidup lebih teratur: menyerahkan tanggung jawab. Namun, kepada siapa, jerit saya dari tempat saya membaca, saya harus menyerahkan tanggung jawab itu? Pekerjakan seseorang untuk melakukan "pekerjaan" yang tidak ingin Anda kerjakan, kata mereka. Lagi-lagi, saya melemparkan majalah atau buku yang saya baca dan bertanya-tanya, bagaimara kita sanggup membayar pekerja yang dapat menyelesaikan daftar tugas yang tak habis-habisnya dalam rumah tangga yang sibuk? Pasukan pekerja saya terdiri dari dua orang gadis kecil, seekor anjing, seekor kucing, dan seorang suami yang sebenarnya sangat siap membantu, tetapi tidak punya waktu.

Saat anak-anak masih kecil, saya akan mengenakan jas hujan, dengan kerah berdiri, meraih notepad, dan berbicara dengan aksen misterius. "Pemeriksa kamar sudah datang," kata saya. "Waktu untuk memeriksa kamar." Gadis-gadis itu akan berhentikan melakukan apa pun yang sedang mereka kerjakan dan dengan riang gembira lari ke kamar mereka untuk merapikannya sebelum pemeriksa kamar tiba. Pemeriksa kamar bahkan suka bertamu untuk memeriksa kamar di rumah kawan-kawan mereka sesekali.

Sayangnya, anak-anak sudah tidak takut lagi pada pemeriksa kamar. Sekalipun begitu, saya ingin mereka bangga dengan rumah mereka dan berperan serta sebagai anggota keluarga yang aktif. Yang juga termasuk prioritas saya adalah membebaskan rumah dari handuk basah yang tercecer di lantai antara kamar mandi dan kamar tidur.

Saya ingin, anak-anak memahami bahwa rumah yang bersih dapat membebaskan pikiran mereka dari gangguan dan memungkinkan mereka untuk menjadi kreatif dan intuitif. Membersihkan rumah yang berantakan merupakan alkimia zaman modern dan dapat mengubah hidup kita, tetapi bagaimana saya dapat memotivasi keluarga saya untuk menyingsingkan lengan baju dengan penuh semangat sehingga mereka dapat merasakan aliran energi kehidupan yang kuat?

Saya memutuskan untuk minta nasihat kepada para peserta lokakarya dan pelanggan berita berkala (newsletter) saya. "Bagaimana anak-anak Anda membantu mengerjakan tugas rumah tangga?" Gagasan-gagasan kreatif mereka telah membantu memecahkan masalah tugas rumah tangga saya. Bukannya harus merengek untuk minta bantuan sederhana, tugas  rumah tangga  justru menjadi sesuatu yang menarik di sini. Oya, saya telah memasang gantungan di pintu kamar mandi untuk handuk basah.

Inilah sebagian saran mereka

 "Jika anak-anak membiarkan mainan dan pakaian mereka berceceran di dalam rumah, barang itu dimasukkan ke penjara. Saya meletakkan catatan di kamar anak, yang bunyinya, Tolong, aku sandal merahmu dan aku ada di penjara.’ Anak boleh memilih: membiarkan barang itu menjalani  masa  tahanan (beberapa hari) atau membebaskannya dengan mengerjakan tugas yang saya berikan."

 "Suami dan saya sering membuat daftar tugas yang harus dikerjakan saat kami pergi pada malam hari. Anak-anak membaca dan kemudian mengerjakannya saat kami pergi. Setiba kami di rumah, mereka merasa bangga telah mengerjakan tugas-tugas itu sendiri tanpa harus kami awasi. Cara ini berhasil sampai mereka remaja, dan selanjutnya semua cara ini tidak jalan! Saya menghentikan segala usaha untuk menyuruh mereka membersihkan kamar sendiri kali ini dan memutuskan, selama tidak ada hewan atau  jamur tumbuh di dalam kamar, mereka bebas ‘memperlakukan’ kamar tersebut asalkan pintunya ditutup. Ini sulit sekali bagi saya sebab saya senang melihat rumah yang rapi. Namun, saya juga tidak ingin meributkan hal-hal sepele begini, yang bisa membuat mereka kesal dan mengganggu komunikasi kami mengenai masalah yang benar-benar penting, seperti narkoba dan seks. Tiga dari empat anak kami kini menjadi orang yang rapi dan tidak tahan berada di rumah yang berantakan."

"Saya tidak suka mendengar keluhan-mingguan yang berkenaan dengan pembersihan kamar, maka saya menyuruh anak-anak memilih satu hari dalam seminggu saat mereka harus mengerjakan tugas itu. Sekarang, tidak ada keluhan lagi! Kadang- kadang, keadaan yang berantakan di luar hari-kerja mereka membuat saya senewen, tetapi saya menghibur diri bahwa pada hari-kerja mereka nanti, semua itu akan dibereskan!"[]

 
Disadur dari buku SQ untuk Ibu, Penulis: Mimi Doe, Penerbit KAIFA

 







comments powered by Disqus
Teh Ninih
connect with abatasa