Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Hijabers » Parenting » Plus Minus Membina `Rumah Terpisah` (bag. 1)
Plus Minus Membina `Rumah Terpisah` (bag. 1)
Saat ini, tidak sedikit keluarga yang menerapkan pola rumah tangga yang dipisahkan jarak. Apakah itu berbeda kota, atau berbeda negara. Membina rumah tangga dalam sebut saja `rumah terpisah` adalah suatu pilihan atas pertimbangan-pertimbangan...
Selasa, 21/08/2007 16:22 WIB
Plus Minus Membina `Rumah Terpisah` (bag. 1)

Saat ini, tidak sedikit keluarga yang menerapkan pola rumah tangga yang dipisahkan jarak. Apakah itu berbeda kota, atau berbeda negara. Membina rumah tangga dalam sebut saja 'rumah terpisah' adalah suatu pilihan atas pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Auladi menemukan, alasan pertama yang banyak mendorong pasangan membina 'rumah terpisah' adalah aktualisasi diri. Misalnya saja pekerjaan, promosi jabatan, dan lainnya. Mata pencaharian dari pasangan suami isteri yang berbeda daerah, atau salah satu dari pasangan tiba-tiba ditugaskan bekerja di daerah lain.

Kedua, masalah pendidikan. Saat suami atau isteri harus melanjutkan pendididkan ke jenjang lebih tinggi di suatu kota atau negara lain, dimana tidak memungkinkan untuk memboyong keluarganya maka menetapkan secara terpisah adalah pilihan.

Ketiga, faktor ekonomi. Mungkin serupa dengan alasan pertama, tapi lebih di karenakan tuntutan finansial. Tak ada pilihan untuk mencukupi kebutuhan ekonomi selain tinggal terpisah. Bahkan poin ketiga ini memungkinkan suami tinggal terpisah dari isteri, dan keduanya juga terpisah dari anak-anak. Bisa jadi, anak-anak diasuh dan tinggal dengan keluarga lainnya.

Terakhir, karena keluarga. Adanya tuntutan yang berhubungan dengan keluarga inti di luar suami-isteri-anak yang menuntut peran mereka, sehingga tidak tinggal dalam satu atap.

Sebenarnya, apa sih plus minusnya membina 'rumah terpisah? Auladi memaparkannya untuk Anda?


Demi Waktu

Apapun alasannya, secara fitrah tentu semua pihak ingin menjadi keluarga yang bersatu secara utuh. Tida terpisah dalam suatu jangka waktu tertentu, dan berkumpul pada suatu waktu yang terbatas. Bagi keluarga seperti ini, waktu adalah harta yang tak ternilai.

Pemilik waktu hanyalah Allah. Ia mampu memberikan waktu dan bisa merenggut waktu kapanpun. seperti dalam surat Al-Ashr ayat 1, yang mampu berjanji akan waktu hanyalah Allah. Ia pun menuntut kita untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya. Saling meneguhkan dalam kebaikan dan mengingatkan untuk selalu bersbar. Bagi Anda yang tinggal terpisah dengan waktu yang telah disepakati, karena pendidikan misalnya, Anda memiliki limit yang akan berakhir saat urusan Anda selesai.

Jika dengan bersama saja kadang banyak amanah dan tugas yang tidak tertunaikan secara optimal, bagaimana dengan yang lainnya? (bersambung...)







comments powered by Disqus
Teh Ninih
connect with abatasa