Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Hijabers » Parenting » Jangan Rusak Pede Anak (Bagian Pertama)
Jangan Rusak Pede Anak (Bagian Pertama)
Afifah kecil tersenyum riang. Perlahan ada rasa bangga dalam dada. Hari itu ia berhasil tak menangis saat terjaga dari tidur. Terdengar suara ibu dan Mbok Iyem di dapur, di lantai bawah. “Ah, Ifah kan udah besar, udah empat tahun. Ifah pasti bisa bangun sendiri tanpa...
Rabu, 22/08/2007 17:14 WIB
Jangan Rusak Pede Anak (Bagian Pertama)

Afifah kecil tersenyum riang. Perlahan ada rasa bangga dalam dada. Hari itu ia berhasil tak menangis saat terjaga dari tidur. Terdengar suara ibu dan Mbok Iyem di dapur, di lantai bawah. “Ah, Ifah kan udah besar, udah empat tahun. Ifah pasti bisa bangun sendiri tanpa menangis,” lirih Afifah.

Karena begitu senang Afifah lupa meraih pegangan tangga dengan tangannya. Afifah belum mengerti, bahwa kondisi orang bangun tidur belum sepenuhnya stabil menyokong tubuh. Afifah malah asik menapaki tangga dengan meloncat menggunakan kedua kakinya. Hap..hap...hap..

Ketika lima anak tangga tersisa, tubuh kecilnya tiba-tiba hilang keseimbangan, ia melayang kemudian berguling-guling bak bola kecil. Buk! Keras tubuh Afifah bertemu bumi. “Ifaaaaaaah.!” sang Bunda yang melihat anaknya berguling berteriak histeris.

Kejadian empat tahun itu tak hanya menyisakantanda di tangan kanan Afifah, akibat harus dijahit sebanyak lima jahitan. “Bekas” kecelakaan pun ternyata tertanam pada jiwa Afifah. 'Omelan' sayang Bunda dan Ayah selama hampir satu minggu setelah kejadian, membuat Afifah merasa dirinya tak mampu lagi berbuat benar. Rasa percaya diri Afifah pun turun drastis. Kini, apapun yang Afifah lakukan, ia selalu bertanya pada orang terdekatnya, memohon persetujuan apakah ia sudah benar melakukan hal tersebut?

Musibah yang menimpa Afifah semata berawal dari ketidakpekaan dirinya terhadap bahaya. Ketika lahir, anak tidak mengerti bahaya-bahaya yang mengelilinginya. Lihat saja, bagaimna bayi yang baru bisa merangkak begitu berhasrat ingin menggapai api yang baginya tentu sangat menarik. Merah-kuning-biru menari bersama-sama. Balita yang baru bisa berjalan tertatih-tatih, ingin memanjat kursi yang tingginya melebihi ukuran dirinya. Semua itu dikerjakan tanpa rasa takut. Diokerjakan dengan percaya diri.

Nah, tinggal orang tauanya yang ketar-ketir melihat buah hati mendekati 'bahaya'. Teriakan 'Awas', 'Jangan', atau 'Tidak boleh!' santer terdengar meluncur dari mulut orang-orang dewasa. Wajar memang mengkhawatirkan keselamatan anak. Tapi, bukan soal menjaga keselamatan anak yang menjadi perhatian, bagaimana cara orang tua 'menampakkan dan melakukan tindakan tertentu pada anak yang menjadi pertimbangan. Jika ekspresi dantindakan orang tua melindungi anak itu dilakukan dengan berlebihan, menurut Reamonn O Donnchadha, akan menghambat mereka sehingga tak mampu mengambil keputusan. Sehingga akhirnya, mereka tak percaya diri dan selalu bergantung pada orang lain.

Ketika anak melakukan kesalahan kemudian kita, orang dewasa melakukan kritik pedas secara berlebihan, hal ini akan tertanam pada diri anak. Anak akhirnya takut untuk mencoba, ia 'kalah' sebelum bertanding, was-was akan melakukan kesalahan. Padsahal, bukankah manusia itu makhluk yang terus belajar karena dikaruniai akal? Bukankah turunan Adam As. harus belajar dari kesalahnnya?

Orang tua mana yang tak senang memiliki anak yang pede alias percaya diri? Anak yang percaya akan kemampuan dirinya. Manusia, tak terkecuali anak-anak, akan merasa unggul dan puas ketika berhasil melakukan pencapaian prestasi. Dapat menghabiskan sebuah lagu sederhana, mungkin bagi orang dewasa bukan sesuatu yang istimewa. Namun ternyata, bagi anak 3 tahun, hal tersebut adalah prestasi.

Sebagaian orang menyimpulkan pede tidaknya anak, disalurkan lewat hubungan genetis atau turunan. Memang kesimpulan itu dibenarkan oleh Donnchadha, penulis buku The Confident Child. Namun faktor utama yang mendorong apakah anak akan berhasil dalam kehidupannya adalah lingkungan.

Termasuk didalamnya bagaimana anak mempelajari kehidupan yang ia tempa dari orang tua, guru, orang-orang dewasa di sekitar, dan teman-teman sebaya. Sekali lagi, pengaruh keturunan dan lingkungan akan sangat dominan terhadap kepribadian anak. Karena dengan dua hal tersebut, anak selalu berupaya harus menyesuaikan diri dengan tekanan dan tuntutan lingkungan yang membesarkan dirinya ... (bersambung...)







comments powered by Disqus
Teh Ninih
connect with abatasa