Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Hijabers » Parenting » Anak Marah, Atasi dengan Cara Ini
Anak Marah, Atasi dengan Cara Ini
ANAK hanyalah manusia biasa, yang juga memiliki perasaan dan keinginan. Ketika keinginan tak terpenuhi dan perasaannya menjadi terganggu, maka emosinya bisa jadi muncul. Ya, meluapkan kekesalan dengan cara marah, itulah ...
Selasa, 01/11/2016 16:27 WIB
Anak Marah, Atasi dengan Cara Ini

ANAK hanyalah manusia biasa, yang juga memiliki perasaan dan keinginan. Ketika keinginan tak terpenuhi dan perasaannya menjadi terganggu, maka emosinya bisa jadi muncul. Ya, meluapkan kekesalan dengan cara marah, itulah yang biasa dilakukan seorang anak.

Ketika hal itu terjadi, biasanya banyak orang tua yang merasa bingung bagaimana cara mengatasinya. Mereka bingung, karena takut bersikap salah, yang dapat menambah marah anak meningkat. Mengingat, terkadang banyak orang tua yang juga malah ikut marah ketika anaknya marah, sehingga anak merasa tertekan. Lalu, bagaimana cara mengatasi kemarahan anak?

Seperti yang lazim diketahui, ketika anak sedang asyik memainkan mainan-mainannya lalu dipanggil ibunya untuk segera mengenakan pakaian dan siap-siap pergi ke pasar, saat itu ia merasa marah dan menolak untuk pergi bersama ibu. Karena, bermain baginya lebih senang daripada pergi ke pasar.

Dalam situasi seperti ini, ibu bisa berkata kepadanya, "Ibu tahu kamu marah. Ibu juga mungkin marah ketika tidak bisa melakukan apa yang ibu inginkan. Tapi kita tidak selamanya bisa melakukan apa yang kita inginkan. Untuk itu, mari sama-sama kita menikmati waktu sebentar untuk pergi berbelanja keperluan rumah."

Mungkin cara ini tidak serta-merta menghilangkan amarah anak, namun ibu harus terus memastikan agar ia melakukan apa yang ibu minta. Sehingga, pada saat yang bersamaan ia tahu bahwa ibunya merasakan apa yang ia rasakan. Perasaan-perasaan ini merupakan hal normal sehingga membuat ia mau menerimanya tanpa tindakan-tindakan mengusik.

Lain halnya ketika ibu membuatnya merasa bahwa bersikap mengusik dan marah dalam situasi-situasi seperti ini tidak bisa diterima. Dan ibu tidak mencintainya karena anak meluapkan amarah.

Saat itu perasaan sedihnya akan semakin runyam dan meningkat. Ketika situasi-situasi seperti ini terus berulang, tidak menutup kemungkinan ia menjadi sangat pendiam. Sehingga tidak mau menunjukkan perasaan dalam hati, selalu merasa bersalah tanpa sebab yang jelas. Bisa jadi kelak ia tumbuh dewasa dengan merasa kepribadiannya terpecah dan kepercayaan dirinya lemah. (Awlādunā, Dr. Mamun Mabidh)

Maka, ketika anak marah, kontrollah emosi diri Anda. Jangan sampai Anda melakukan hal yang salah, yang malah membuat suasana menjadi tidak nyaman. Di mana perbuatan salah itu bisa jadi mempengaruhi masa depannya. Jadi, bersikaplah lebih tenang dan pahami perasaan seorang anak. Beri pengertian padanya dan buatlah yakin bahwa Anda sangat mengertikan dirinya dan tahu yang terbaik untuknya. []

Sumber Link







comments powered by Disqus
Teh Ninih
connect with abatasa