Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Hijabers » Parenting » Elly Risman, Psi: “Saya Hanya Ingin Menjadi Agen Parenting” (bag. 2)
Elly Risman, Psi: “Saya Hanya Ingin Menjadi Agen Parenting” (bag. 2)
Sejak zaman dulu, saya sudah terbiasa menjahit sendiri waktu itu. Bahkan sampai kain sprei pun saya jahit sendiri. Jadi bukan ibu saya saja yang pintar, saya pun ikut pintar berkat beliau. Tidak seperti sekarang, semuanya tinggal jadi. Bahkan untuk seprei saja ...
Kamis, 30/08/2007 17:08 WIB
Elly Risman, Psi: “Saya Hanya Ingin Menjadi Agen Parenting” (bag. 2)

sambungan sebelumnya...

Bagaimana sih kisahnya Anda pandai menjahit?

Sejak zaman dulu, saya sudah terbiasa menjahit sendiri waktu itu. Bahkan sampai kain sprei pun saya jahit sendiri. Jadi bukan ibu saya saja yang pintar, saya pun ikut pintar berkat beliau. Tidak seperti sekarang, semuanya tinggal jadi. Bahkan untuk seprei saja semuanya dapat dibeli dalam bentuk yang sudah jadi dan beragam.

Ya, kenangan bersama bunda tercintanya itu membuat Elly bersyukur dan bergiat di kegiatan yang ia tekuni sekarang. Elly bahkan tidak pernah lupa bahwa pada saat ia kecil, baju-baju yang ia pakai dan kenakan adalah baju-baju yang paling bagus di kampungnya.

Apa saja kenangan Anda yang lain bersama Ibu Anda?

Baju saya bagus-bagus, modelnya berbeda dari orang lain, kalo yang lain bajunya seragam model es lilin, karena waktu itu zaman PKI. Baju saya ada bordiran bunganya. Bagi saya, apa yang diperbuat Ibu untuk saya itu lebih dari seorang psikolog. Padahal ia hanya tamatan SMP, tapi ilmunya lebih di atas pskolog pada umumnya.

Rasanya pujian Elly atas ibunya yang bernama Sa'adah Syam tidaklah berlebihan. Alhamdulillah berkat rahmat Allah SWT yang Mahakuasa, Ibunda Elly masih aktif bergiat di sebuah pondok pesantren di sebuah daerah di Aceh.

Menurut Anda, apa perbedaan yang Anda rasakan tentang mendidik anak saat ini dengan jaman dahulu?

Sekarang ini budaya serba instant. Inilah yang tidak saya sukai, termasuk diantaranya adanya kecenderungan orang tua untuk mendidik anak menjadi seorang karyawan. Anak disekolahkan tinggi-tinggi untuk bekerja sebagai karyawan. Karena itu saya dan suami berusaha mendidik anak untuk tidak menjadi karyawan. Bukankah pada kenyataan dewasa ini ada orang yang tidak tamat sekolah, atau hanya tamatan SD dan SMP akhirnya mempunyai usaha sendiri dan menjadi bos sendiri?

Menurut Anda mengapa semua hal itu dapat terjadi?

Orang tua itu banyak yang tidak sadar akan potensi yang ada pada dirinya. Padahal seiring Allah SWT memberi rahim kepada seorang perempuan maka dengan sendirinya akan muncul sifat keibuan pada dirinya. Begitu juga dengan kaum pria, seiring diberinya zakar kepada seorang lelaki, maka dengan sendirinya muncul sifat kebapakan pada dirinya. Hanya saja mereka kurang mengembangkannya.

Begitulah opini Elly tentang salah satu penyebab adanya fenomena yang menguatirkan pada anak dan remaja, seperti terjerumusnya ke dalam pergaulan bebas, seks dan narkoba. Namun opini di atas ternyata bukan opini yang asal terlontar dari pemikiran Elly yang tiba-tiba. Elly yang dikenal sebagai seorang pskolog 'biasa' yang kerap membuka forum kon suler, ternyata juga seorang ilmuan dan peneliti yang pernah menerjunkan diri dalam lembaga penelitian.

Menurut Anda kenapa anak dan remaja kini seperti menjadi seperti momok?

Untuk membahas masalah ini, kita perlu penelitian dan kebetulan saya juga seorang peneliti loh, saya pernah bekerja disebuah lembaga research. Dalam penelitian tersebut saya menarik kesimpulan bahwa persoalan yang terjadi di luar sana karena berawal dari persoalan di dalam rumah. belum lagi ditambah dengan beragamnya persoalan yang terjadi di luar sana, dan hal ini menjadikan tangtangannya luar biasa.

Apa yang Anda maksud tantangan yang luar biasa?

Bahkan boleh dikata, cara berpikir orang Indonesia itu terburuk dan bahkan di bahwah Vietnam yang belum terlalu lama menghirup udara kebebasan bila dibandingkan dengan Indonesia. Cara berpikir yang salah yaitu cara berpikir yang tanpa musyawarah dan tanpa pilihan yang dapat dikompromikan serta tanpa planning.

Tanpa musyawarah? Sebuah hal yang ironi bila dipikirkan secara mendalam untuk sebuah bangsa yang mengagungkan Pancasila selama 61 tahun ini. Bukankah semua anak bangsa Indonesia tahu bunyi sila keempat dari pancasila? Namun jauh lama dari itu, Qur'an telah mengajarkan kita betapa pentingnya sebuah musyawarah. Bahkan musyawarah itu sendiri diabadikan menjadi nama sebuah surah dalam Al-Qur'an Nul Karim, tuntunlah hidup umat Islam sampai akhir zaman. Tepatnya surat ke-42, Asy Syura.

Selain membeberkan segala permsalahan di atas, dalam wawancara ini, Elly juga banyak merendahkan diri, salah satu ketawadhuannya yaitu ia mengatakan bahwa banyak orang yang mengatakan dirinya aneh.







comments powered by Disqus
Teh Ninih
connect with abatasa