Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang
Hijabers » Parenting » Antara Tega dan Tidak
Antara Tega dan Tidak
Benar-benar tidak nyenyak tidur Ny. Astuti (24 tahun) malam ini. Untuk pertama kalinya ia membiarkan anaknya, Lia (3 bulan), tidur sendiri di kamarnya. Ia gelisah.
Rabu, 28/09/2011 15:22 WIB
Antara Tega dan Tidak

Benar-benar tidak nyenyak tidur Ny. Astuti (24 tahun) malam ini. Untuk pertama kalinya ia membiarkan anaknya, Lia (3 bulan), tidur sendiri di kamarnya. Ia gelisah. Padahal, semua sudah disiapkan, lho. Boks berkelambu, bantal guling empuk, selimut hangat, lampu tidur yang cahanya redup, dan perleng¬kapan lainnya. “Bagaimana, ya. Rasanya enggak tega begitu. Kok kayaknya jahat banget, ya?” ujar Astuti.

Akhirnya, malam itu sang bayi tidak jadi tidur sendiri di kamarnya. Apa yang terjadi. Ternyata Lia tidur dengan nyenyaknya. “Alhamdulillah, ia enggak rewel, tuh,” cerita Astuti lega. Ia yakin, apa yang dilakukannya adalah strategi yang tepat untuk melatih anak tidur sendiri. Walaupun demikian, Astuti selalu menyempatkan diri bangun malam-malam untuk memeriksa kondisi bayinya.

Pengaturan Tidur Berubah-ubah

Membiarkan bayi tidur sendiri, memang masih menim¬bulkan silang pendapat. Ada yang setuju dan ada yang tidak. Pengaturan tidur bayi yang senantiasa berubah, mungkin karena orang tua terus-menerus memikirkan di mana tempat yang benar pas untuk bayinya. Banyak pasangan muda yang sampai harus mengandalkan nasihat orang tuanya untuk menentukan di mana sang cucu yang tersayang harus tidur.

Ada pasangan muda yang privasinya terganggu dengan hadirnya bayi di tengah mereka. Akibatnya, mereka mencoba “melindungi” privasi dengan menolak sama sekali kehadiran bayi di kamar mereka. Pada sisi lain, ada orang tua yang justru merasa lebih nyenyak tidur bila bayi mereka ada di dalam satu kamar. Pikir mereka, kan jadi tidak perlu cemas dengan keadaan bayi.

Mereka yang setuju bayi tidur sekamar dengan orang tua berpendapat, hal itu bisa memperkuat ikatan (bonding) antara orang tua dan bayi. Sedangkan yang tidak setuju mengatakan, pembentukan ikatan tidak semudah itu. Benar bahwa bayi dan orang tua akan membentuk hubungan emosional yang erat, lan¬taran selalu bersama pada malam hari. Namun, ini tidak akan terjadi jika bayi malah menangis menjerit-jerit saat ayah-ibunya sedang ingin tidur berdua saja.

Pikirkan Masak-masak

Apa pun strategi yang Anda pilih untuk menentukan penga¬turan tidur bayi Anda, pikirkan lebih dulu unturig ruginya. Meskipun fakta-fakta saat ini tampaknya lebih “berpihak” pada tempat tidur dan kamar yang terpisah untuk bayi, khususnya yang berusia 3 bulan ke atas (karena mereka biasanya tidak sering menangis di malam hari), pengaturan tidur bayi tetaplah sangat pribadi. Benar-benar urusan dan hak Anda bersama suami.

Pada kelompok masyarakat tertentu, tidur bersama bayi ini sudah berlangsung berabad-abad. Ini baik-baik saja, dalam arti, sejauh mereka menyadari kemungkinan risikonya. Dan lagi, bayi mereka memang mendapat kehangatan dan kenyamanan khusus. Sementara bagi mereka yang memilih tidur terpisah, bukan berarti “kehangatan” itu hilang. Keakraban tetap bisa terjalin de¬ngan membawa bayi ke tempat tidur mereka pagi hari. Untuk dipeluk atau disusui.

Jadi lakukanlah apa yang dirasa cocok dan menyenangkan Anda. Kebanyakan orang tua umumnya kadang membawa bayi ke tempat tidur mereka. Mungkin waktu tidur sore, atau saat tidur siang. Bisa juga saat bayi akan tidur malam. Tapi setelah nyenyak bayi dipindahkan ke tempat tidurnya sendiri.

Disadur dari buku Akrab dengan Si Kecil - editor Deni Karsana
- Wyeth Nutritionals







comments powered by Disqus
Teh Ninih
connect with abatasa